Posted by: fair | 16 September 2008

Zakat berdarah….

Duapuluh satu jiwa tewas dan satu orang kritis serta 10 orang pingsan dan cedera. Peristiwa naas, miris dan mengenaskan ini hanyalah karena berebut zakat sebesar 30.000 rupiah. Siapa yang bersalah? Peristiwa ini terjadi karena pemerintah tidak mampu menanggulangi masalah kemiskinan. Pemerintah yang berkewajiban memelihara orang miskin dan telantar seperti tercantum dalam UUD 1945, belum cukup keberpihakannya kepada rakyat kecil dan papah ini. Ataukah karena kita belum terbiasa dengan sistem “antri tertib?” Wajarlah kalau tragedi demi tragedi kerap melanda kita. Kita merasa kasihan kepada para korban. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un

Posted by: fair | 15 September 2008

Kejujuran milik siapa?

Kejujuran adalah kata yang sering kita ucapkan namun belum banyak dari kita yang tahu arti dan makna dari kata tsb. Kita sering berkata seolah-olah jujur tapi (sejujurnya) kita sering berkata kurang jujur bahkan bohong bin dusta. Kebohongan dibalut dengan kata-kata “terus terang” (mirip iklan lampu). Kadang diawali dengan kata “terus terang” agar tidak diketahui bahawa sebenarnya kalimat selanjutnya adalah kalimat kurang jujur alias “dusta”. Contoh nyata di bulan puasa, seorang penjual kaki lima berkata,:”terus terang saja ya, ini saya jual rugi, saya tidak dapat untung lho.” Mungkinkah hari gini masih ada seseorang yang mau “jual rugi tanpa balik modal?” Rasanya sangat mustahil. Jika seorang penjual di kaki lima saja kurang jujur, bagaimana dengan ritel yang ada di mal? Benarkah diskon sampai 80% tidak merugi? Dalam pikiran kita terbersit pertanyaan :”Di manakah kejujuran bisa kita temui?” Anak kecilkah yang harus kita dengar? Atau pohon dan patungkah tempat kita mendapatkan jawaban jujur?

Posted by: fair | 15 September 2008

LEBARAN…. HATI BERSIH ATAU HATI BENING??

Sudah “setengah jalan” puasa kita lalui. Sebentar lagi puasa akan usai, lagi-lagi kita akan memasuki bulan Syawal untuk menyambut hari raya, hari yang penuh kemenangan. Hari yang suci karena jiwa kita sudah disucikan selama sebulan penuh. Makna dari jiwa yang suci sangat dalam membekas di hati kita. Akankah “jiwa yang suci” sudah dibarengi dengan “hati yang suci?” Jawabannya berpulang kepada diri kita masing-masing. Jika hati kita sudah tidak ada dendam terhadap orang yang pernah menyakiti kita, itu baru pertanda kecil bahwa hati kita sudah agak bersih. Jika hati kita sudah tidak dendam dan mau memaafkannya, barulah disebut hati yang bersih. Hati “yang bersih” pun hanya merupakan bagian kecil dari “hati yang bening”. Jika hati kita sudah bening, seperti halnya kaca, maka akan terpancar apa saja dari perilaku kita yang baik. Orang yang “bening hati” maka yang terpancar darinya adalah “hal yang baik semuanya.” Tidak ada perilaku yang tercela sedikitpun dari orang yang bening hati tsb. Hatinya seperti hati para sufi. Akankah kita bisa meraih hal ini? Mudah-mudahan

Posted by: fair | 15 September 2008

Halo dunia!

Welcome to Blogdetik.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Categories